1.
PENGERTIAN
TANAH
Tanah merupakan hasil pelapukan atau
erosi batuan induk (anorganik) yang bercampur dengan bahan organik. Tanah
mengandung partikel batuan atau mineral, bahan organik ( senyawa organik dan
organisme ) air dan udara.
· USIA TANAH
Dilihat dari segi kesuburannya, tanah dibedakan atas
tanah muda, tua dan tanah mati.
1. Tanah Muda.
Tanahnya
banyak mengandung zat makanan ( unsur haranya sangat baik ), udara dan
air di dalamnya masih tetap terjaga, tingkat kesuburannya tinggi, tanah tersebut dalam keadaan gembur yang
butirannya tidak teralu besar. Tanah ini banyak dijumpai di lereng gunung dan
di sepanjang aliran sungai ( DAS ), serta berwarna abu-abu.
2. Tanah Tua.
Tanah ini
memiliki cukup makanan tetapi tidak segembur tanah muda, karena sering dipakai
untuk berbagai jenis usaha pertanian dan perkebunan, sehingga bunga tanahnya
atau kandungan zat makanan seperti unsur hara menjadi berkurang.Kesuburan tanah
ini tidak sesubur tanah muda. dan tanah ini mengalami erosi. Tanah ini padat
dan berubah warna yang tadinya abu-abu menjadi coklat keabu-abuan.
3. Mati.
Hampir
seluruh unsur hara hilang, sehingga tanah akan kehilangan zat makanan. Tingkat
kesuburan tanah ini rendah. Dengan keadaan tanah yang dibiarkan ditumbuhi
alang-alang maka tanahnya akan menjadi padat dan kritis, sehingga tanahnya
menjadi merah atau merah muda.
· MANFAAT TANAH
Manfaat tanah antara lain:
1. Sebagai tempat tinggal
2. Sebagai bercocok tanam
3. Untuk membuat jalan
4. Untuk bahan baku kerajinan
· CARA PELESTARIAN TANAH
a.
mengurangi penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dan membudidayakan pupuk kandang/pupuk organik
untuk mengambilkan kesuburan tanah.
b. pengendalian
lahan kritis dengan melakukan reboisasi dan penghijauan
c.
mengurangi laju erosi tanah,mis: pembuatan terasering
pada lahan miring
d.
mengurangi kejenuhan tanah dengan melakukan pergiliran
tanaman pertanian agar kesuburan tanah tetap terpelihara
e.
mengurangi penguapan tanah dengan penggunaan mulsa dari
sisa-sisa tanaman sebagai penutup tanah
2.
PROSES TERBENTUKNYA TANAH
Pembentukan tanah di bagi menjadi
empat tahap
Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya pelapukan kimiawi.
Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.
Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah pelapukan biologis. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya pelapukan kimiawi.
Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.
Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah pelapukan biologis. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
3.
JENIS-JENIS
TANAH DAN PERSEBARANNYA
1. Tanah Alluvial
Alluvial adalah tanah yang
berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai-sungai. Sifat tanah
jenis ini gembur, dapat menyerap air. Ciri-ciri tanah ini yaitu, jenis
tanah masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk
aluvium, dan kesuburan umumnya sedang hingga tinggi. Tanah ini cocok ditanami,
palawija, tembakau, tebu, sayuran, kelapa dan buah-buahan. Jenis tanah ini
terdapat di Jawa bagian Utara, Sumatra bagian Timur, Kalimantan bagian Barat
dan Selatan.Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai seperti di
Kerawang, Indramayu, Delta Brantas.
2. Tanah Andosol
Tanah andosol terbentuk dari
endapan abu vulkanik yang telah mengalami pelapukan sehingga menghasilkan tanah
yang subur. Tanah ini memiliki ciri-ciri yaitu, warna coklat kekelabuan hingga
hitam, kandungan organiknya tinggi, dan kelembapannya juga tinggi. Andosol
kebanyakan terdapat di pulau-pulau yang memiliki gunung api aktif, seperti di
Sumatra bagian Barat, Jawa, Bali, dan sebagian Nusa Tenggara.
3. Tanah Grumusol
Grumusol adalah tanah yang
berasal dari batuan induk kapur dan tuffa vulkanik, sehingga kandungan
organiknya rendah. Tanah grumusol pada umumnya mempunyai tekstur liat, berwarna
kelabu hingga hitam, pH netral hingga alkalis, dan mudah pecah saat musim
kemarau. Persebarannya meliputi Sumatra Barat, Jawa Barat (daerah Cianjur),
Jawa Tengah (Demak, Grobogan), Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Madiun,
dan Bangil), serta di Nusa Tenggara Timur. Pemanfaatan jenis tanah ini pada
umumnya untuk jenis vegetasi rumput-rumputan atau tanaman keras semusim
(misalnya pohon jati).
4. Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah
hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan (bahan organik). Tanah humus ini sangat
subur dan cocok untuk lahan pertanian, warnanya kehitaman. Tanah jenis ini
terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
5. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah
yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Karena tua sekali maka tanah ini
sudah tidak subur lagi. Tanah laterit berwarna merah muda sehingga disebut pula
tanah merah. Tanah jenis ini banyak terdapat di daerah Jawa Timur, Jawa Barat,
Kalimantan Barat dan Lampung.
6. Tanah Latosol
Latosol adalah tanah yang
terbentuk dari batuan beku,sedimen,dan metafomorf. Tanah latosol memiliki
ciri-ciri yaitu, merupakan jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi
deferensiasi horison, solum dalam, tekstur lempung, warna coklat, merah hingga
kuning, mudah menyerap air, memiliki pH 6 – 7 (netral) hingga asam, memiliki
zat fosfat yang mudah bersenyawa dengan unsur besi dan aluminium, kadar
humusnya mudah menurun. Tanah ini tersebar di kawasan Bukit Barisan (Sumatra),
Jawa, Kalimantan Timur dan Selatan, Bali, Papua, dan Sulawesi.
7. Tanah Litosol
Tanah litosol belum lama
mengalami perkembangan tanah, akibat pengaruh iklim yang lemah, letusan vulkan,
atau topografi yang terlalu miring atau bergelombang. Tanah jenis ini merupakan
tanah mineral dengan sedikit perkembanan profil, tekstur tanah beraneka dan
pada umumnya berpasir, tidak bertekstur, warna, kandungan batu, kerikil dan
kesuburan bervariasi. Tanah litosol terdapat di daerah pegunungan kapur
dan daerah karst di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan Maluku
Selatan.
8. Tanah
Kapur
Tanah kapur adalah tanah
yang berasal dari batuan kapur yang pada umumnya terdapat di daerah pegunungan
kapur dan berumur tua. Tanah ini tidak subur, tetapi masih dapat ditanami pohon
jati. Tanah ini terdapat di daerah seperti daerah hutan jati di Pegunungan
Kendeng, Blora, Jawa Tengah, dan di Pegunungan Sewu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Persebarannya
banyak terdapat di daerah pegunungan kapur, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah,
Nusa Tenggara, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku dan Sumatera.
10. Tanah Mergel
Tanah mergel adalah tanah
yang terjadi dari campuran batuan kapur, pasir dan tanah liat. Pembentukan
tanah mergel dipengaruhi oleh hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Tanah
mergel termasuk jenis tanah yang subur dan banyak terdapat di lereng pegunungan
dan dataran rendah, misalnya Solo (Jawa Tengah), Madiun, dan Kediri (Jawa
Timur).
11. Tanah Podzolik Merah Kuning
Tanah podzolik merah kuning
merupakan jenis tanah yang memiliki persebaran terluas di Indonesia. Berasal
dari bahan induk batuan kuarsa di zona iklim basah dengan curah hujan antara
2.500 – 3.000 mm/tahun. Sifatnya mudah basah dan mudah mengalami pencucian oleh
air hujan, sehingga kesuburannya berkurang. Dengan pemupukan yang teratur,
jenis tanah ini dapat dimanfaatkan untuk persawahan dan perkebunan. Tersebar di
dataran-dataran tinggi Sumatra, Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa Barat,
Maluku, dan Nusa Tenggara.
12. Tanah Regosol
Tanah regosol adalah tanah
yang terbentuk akibat pelapukan batuan yang mengandung abu vulkanik, pasir
pantai dan nafal. Ciri-cirinya yaitu, Tanah regosol merupakan hasil erupsi
gunung berapi, Jenis tanah masih muda, belum mengalami deferensiasi horison,
bersifat subur, berbutir kasar, berwarna keabuan, kaya unsur hara, cenderung
gembur, kemampuan menyerap air tinggi, dan mudah tererosi. Persebaran jenis
tanah ini di Indonesia terdapat di setiap pulau yang memiliki gunung api, baik
yang masih aktif ataupun yang sudah mati. Seperti Jawa, Sumatra, dan Madura.
Banyak dimanfaatkan untuk lahan pertanian.
4.
MACAM-MACAM
JENIS TANAH
1. Non
vulkanik
Tanah
non
a. Tanah
aluvial
Alluvial
adalah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui
sungai-sungai. Sifat tanah jenis ini gembur, dapat menyerap
air. Ciri-ciri tanah ini yaitu, jenis tanah masih muda, belum
mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, dan kesuburan umumnya
sedang hingga tinggi. Tanah ini cocok ditanami, palawija, tembakau, tebu,
sayuran, kelapa dan buah-buahan. Jenis tanah ini terdapat di Jawa bagian Utara,
Sumatra bagian Timur, Kalimantan bagian Barat dan Selatan.Penyebarannya di
lembah-lembah sungai dan dataran pantai seperti di Kerawang, Indramayu, Delta
Brantas.
b. Tanah
litosol
Tanah litosol belum lama mengalami
perkembangan tanah, akibat pengaruh iklim yang lemah, letusan vulkan, atau
topografi yang terlalu miring atau bergelombang. Tanah jenis ini merupakan
tanah mineral dengan sedikit perkembanan profil, tekstur tanah beraneka dan
pada umumnya berpasir, tidak bertekstur, warna, kandungan batu, kerikil dan
kesuburan bervariasi. Tanah litosol terdapat di daerah pegunungan kapur
dan daerah karst di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan Maluku
Selatan.
c. Tanah Mediteran
hasil pelapukan
batuan kapur keras dan sedimen. Mepunyai ciri-ciri warna putih kecoklatan,
keras, tidak subur.Dapat dimanfatkan untuk pertanian tegalan, hutan jati. Tanah
jenis ini tersebar dipegunungan Jawa Timur, Nusa Tenggara, Jawa Tengah,
Sulawesi, Maluku, Sumatera.
No comments:
Post a Comment